Senin, 28 November 2011

Tips – tips syukur :

1. Temukan kelebihan yg ada pada diri kita
2. Jadikan kelebihan kita sbg modal yg berharga
3. Jangan bersedih dgn apa yg tidak / belum kamu miliki
4. Terimalah diri kita apa adanya
5. Tidak ada manusia yg sempurna, kecuali Rasulullah SAW
6. Setiap orang pasti punya kelebihan atau kekurangan
7. Apa yang ada pada diri kita belum tentu dimiliki orang lain
8. Ingatlah bahwa Allah akan melipatgandakan karunia orang2 yg bersyukur


Alhamdulillah...
Betapa nikmat pada diri kita begitu berlimpah tiada habis...
Betapa puji syukur kita takkan pernah cukup...
Alhamdulillah....
Alhamdulillah....
Alhamdulillah....


”Wahai Tuhanku, jadikanlah aku orang yang pandai mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau karuniakan kepadaku dan kepada ibu-bapakku,
dan jadikanlah aku orang yang beramal shalih yang Engkau Ridhai,
dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan orang-orang yang shalih."

Aamin..
"Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman" (Q. S. Ali Imran : 139)

Tiga dari banyak cara Allah menjawab doa hamba-Nya :

1. Mengabulkan doa kita untuk menambah iman
2. Menunda dan memberikannya di saat yg lebih tepat dan lebih indah untuk menambah kesabaran dan hikmah dalam hidup kita
3. Tidak Mengabulkan doa kita tetapi memberikan hal lain yg jauh lebih baik untuk kita. Karena yg terbaik di mata manusia belum tentu yg terbaek untuk kita di mata Allah.


"Ya Allah ya Rabbi pendamai hatiku, cukuplah Engkau bagiku dan tak ada Illah selain Engkau. Hanya kepada-Mu lah aku bertawakal.
Kuat dan tetapkanlah hatiku selalu di jalan-Mu"

aamin..
Allah menguji hamba dengan dosa,
supaya mendengar doa dan tangisannya,
penyesalannya dan rasa sesalnya, rintihan dan erangannya, pengaduan dan keluhannya, ratapan dan hibanya..

Sungguh bukannya Allah tidak tahu derita hidupmu dan retaknya hatimu, karena Dia tahu,
hati yang seperti itulah yang lebih lunak dan mudah untuk dekat pada-Nya, supaya si hamba menampakkan ketawadhuan, kekhusyuan, dan kerendahannya..

Semoga kita semua selalu dalam maghfiroh-Nya, aamin..

"Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman. [Q. S. Ali Imran : 139]"

"Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan [Q.S. Alam Nasyrah : 5]"
Kunci shalat ialah at-thaharah (wudhu dan tayamum)..
Kunci ibadah Haji dan Umrah ialah ihram..
Kunci terkabulnya harapan ialah doa..
Kunci pengenalan Allah ialah dengan Zikir dan tafakur..
Kunci untuk masuk surga adalah tauhid (tidak menyekutukan Allah)..
Kunci bertambahnya kenikmatan ialah bersyukur..
Kunci kebajikan ialah selalu bersikap benar (ash-shidiq)..
Kunci keberhasilan adalah benar..
Kunci kebahagiaan dunia akhirat adalah bertakwa..
Kunci ilmu pengetahuan ialah bertanya dan mendengar..
Kunci keselamatan ialah tidak banyak bicara..
Kunci maksiat ialah sombong..
Man Jadda Wajada (Barang siapa yang bersungguh-sungguh pasti akan berhasil) tidaklah cukup..
Pernah merasa dimana kita sudah berusaha mati-matian tapi hasilnya tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan?
Lalu, apa yang sebenarnya kurang?
Ingat, jika itu menimpa kita, kita hanya akan seperti badak yang terus-menerus menabrak tembok tebal.
Seberapa pun kuatnya badak itu, lama-lama dia akan pening dan kelelahan.
Bahkan culanya bisa patah.

Ternyata, ada jarak antara usaha keras dengan hasil yang diinginkan.
Jarak itu bisa sejengkal, tapi jarak itu bisa seperti ribuan kilometer.
Jarak antara usaha dan hasil harus diisi dengan sebuah keteguhan hati.
Dengan sebuah kesabaran.
Dengan sebongkah keikhlasan.
Ingatlah, Man Shabara Zhafira, barang siapa yang bersabar akan beruntung..

Jika MAN JADDA WAJADA dan MAN SHABARA ZHAFIRA sudah melekat di hati, bismillah, semoga Allah SWT meridhoi setiap azzam kita.

IZA SADAQAL AZMY WADAHA SABIL : JIKA SUDAH JELAS DAN BENAR KEINGINAN, AKAN TERBUKALAH JALAN
"Dulu kau lahir dalam keadaan lemah, tiada berdaya. Siapa yang membelaimu tatkala kau lemah? Siapa yang malam-malam bangun untuk memberimu minum? Siapa yang memanjatkan doa ketika kau sakit? Siapa yang mengajari kata ALLAH, supaya kau bisa mengenal siapa yang telah menciptakanmu? Sungguh, andai kau tahu kedalaman hati seorang Ibu, kau tak akan bisa menyelaminya. Karena kau tak pernah mencoba melakukan apa yang diperintahkannya..

Sebelum daun-daun menjadi kering,
sebelum air sungai mulai surut, sebelum mentari tak lagi bersinar..
Berdirilah, patuhilah apa tang diperintah Ibumu..
Karena jembatan kebahagiaan hidupmu ada pada ujung lidah ibumu..
Doa Ibumu akan selalu diamini oleh ribuan malaikat"
Mengapa seorang Ibu sering kali menangis?

Karena Ibu adalah seorang wanita..
Allah ciptakan ia sebagai makhluk istimewa..
Allah kuatkan bahunya untuk menyangga anak-anaknya..
Allah lembutkan hatinya untuk memberi rasa aman..
Allah kuatkan rahimnya untuk menyimpan benih manusia..
Allah teguhkan pribadinya untuk terus berjuang saat orang lain mulai menyerah..
Allah beri rasa sensitif agar dapat mencintai putra putrinya dalam keadaan apapun..
Allah kuatkan batinnya untuk tetap menyayangi meski disakiti putra putrinya, bahkan oleh suaminya sekalipun..
Allah beri ia kekuatan untuk mendorong suaminya agar belajar dari kesalahan..
Allah beri dia keindahan untuk melindungi batin suaminya..

Ibu kita makhluk yang kuat..
Jika ia menangis, air matanya membasuh luka batin sekaligus memberinya kekuatan baru..

"Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: 'Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil' " (QS Al Isra 24)
Jangan menunggu bahagia, baru tersenyum.
Tapi tersenyumlah, maka kamu akan semakin bahagia.

Jangan menunggu kaya, baru mau beramal.
Tapi beramallah, maka kamu pasti akan semakin kaya.

Jangan menunggu termotivasi, baru bergerak.
Tapi bergeraklah, maka kamu akan termotivasi.

Jangan menunggu dipedulikan orang baru anda peduli.
Tapi pedulilah dengan orang lain, maka anda pasti akan dipedulikan...

Jangan menunggu orang memahami kamu, baru kamu memahami dia.
Tapi pahamilah orang itu, maka orang itu akan paham dengan kamu.

Jangan menunggu terinspirasi, baru menulis.
Tapi menulislah, maka inspirasi akan hadir dalam tulisanmu.

Jangan menunggu contoh, baru bergerak mengikuti.
Tapi bergeraklah, maka kamu akan menjadi contoh yang diikuti.

Jangan menunggu sukses, baru bersyukur.
Tapi bersyukurlah, maka semakin bertambahlah kesuksesanmu.

Jangan menunggu bisa, baru melakukan.
Tapi lakukanlah! Kamu akan terbiasa dan pasti bisa!

Para Pecundang selalu menunggu Bukti dan Para Pemenang Selalu Menjadi Bukti.

Dan seribu kata akan kalah oleh 1 aksi nyata.
    • Maulana Mustaqim telah bertanya : Apa niat kamu kalau adzan?

      Dijawab : Niat saya untuk memanggil orang kampung shalat berjamaah

      Ada lagi yang menjawab : Niat saya untuk menghidupkan suasana agama

      Ada lagi yang menjawab : Niat saya untuk dakwah



      Maka Maulana Mustaqim : kalau niat kita hanya untuk memangil orang kampung untuk shalat ini niat yang kecil dan adzan itu memang dakwah yang sempurna.



      Jadi niat kita ketika mengumandangkan adzan adalah untuk memanggil semua manusia yang ada di seluruh dunia ini untuk shalat. Maka setiap orang yang shalat diseluruh penjuru dunia akan mengalir pahalanya untuk kita.



      Jadi, dakwah pun begitu



      Ketika kita buat dakwah niatnya pun, buat dakwah diseluruh penjuru dunia.

      Jaulah, niat seluruh alam

      Taklim, niat seluruh alam

      Bayan, seluruh alam

      Silaturrahmi, niat seluruh alam



      Kalau ada orang yang dapat hidayah di Amerika, asbab kerja dakwah maka kita juga akan mendapatkan pahala yang sama.



      Dari Abu Hurairah r.a berkata bahwa Rasulullah SAW telah bersabda: Siapa yang menyeru kearah hidayah dan pekerjaan yang baik, dia akan mendapat pahala sama banyak dengan pahala orang-orang yang mengikutnya. Dan tidak mengurangi sedikit pun pahala orang-orang yang mengikutinya. Begitu juga, sesiapa yang menyeru kejalan kesesatan, dia akan mendapat dosa sepertimana dosa orang-orang yang mengikuti kesesatan itu. Dan karenanya tidaklah berkurangan dosa orang-orang yang mengikutinya itu. (HR. Muslim)



      Ada 10 orang mengumpulkan modal dan beli satu buah kapal. Setiap hari mereka pergi kelaut dan mendapatkan ikan yang banyak. Kalau dijual ikannya, uangnya mencapai 10 juta. Maka uang yang 10 juta ini akan dibagi bersama 1 juta/orang tanpa mengurangi sedikit pun uang yang lain. Lama kelamaan usaha ini berkembang mereka (yang 10 orang tadi) mempunyai 100 kapal. 10 kapal di daerah Sumatra, 10 kapal di daerah Jawa, 10 kapal didaerah Sulawasi. Maka setiap hari mereka mendapatkan uang 1 milyar dan dibagi 10. 100 juta perorang setiap harinya.



      Inilah yang dikatakan amalan ijitima’iyat (amalan bersama). Ketika kita keluar 4 bulan satu jamaah 8 orang. Dapat taskielan 1 jamaah 4 bulan, 3 jamaah 4 hari dan taskielan 3 hari. Maka yang 8 orang ini akan mendapat pahala yang sama.



      Inilah dahsyatnya amalan ijitima’iyat. Setiap orang yang terlibat didalamnya akan mendapatkan pahala yang sama. 4000 masuk islam di Papua asbab kerja dakwah maka kita akan mendapat pahala yang sama. 100 orang masuk Islam di Inggris asbab kerja dakwah maka kita akan mendapat pahala yang sama. 120 jamaah 4 bulan telah dikeluarkan dari ijitima’ Yordan maka kita akan mendapat pahala yang sama, dsb. Seperti menanam saham. Saham dakwah kita diseluruh dunia.



      Sampai kapan kita akan mendapat pahala yang sama (saham dakwah)...?

      Selama kita masih istiqamah dalam dakwah, kalau sudah tidak istiqamah dalam dakwah maka sham kita pun akan dicabut.



      Bagaimana yang dikatakan istiqamah dalam dakwah...?

      Masih buat amal Maqami dan Intiqali.



      Misalkan :

      Bulan ke 1 keluar 3 hari

      Bulan ke 2 tidak keluar lagi

      Bulan ke 3 tidak keluar lagi



      Maka saham dakwah kita pun akan dicabut. Kita sudah dihitung tidak buat usaha dakwah lagi. Dan ketika kita mati dalam keadaan seperti ini maka matinya tidak dalam dakwah.



      Mati dalam dakwah bukan berarti kita mati ketika keluar 40 hari 4 bulan.

      Mati dalam buat amal maqami pun dihitung mati dalam dakwah.



      Orang yang mati dalam dakwah maka pahalanya akan terus mengalir kepadanya walaupun dia sudah meninggal dunia.



      Satu orang tukang bakso keliling-keliling. Didalam benaknya dalam satu hari itu tidak terpikir siapa saja yang akan membeli baksonya. Setiap hari istiqamah jual bakso keliling-keliling tanpa memandang panas atau pun hujan dan lelah terus saja keliling. Karena tukang bakso ini tahu betul, dia berjualan bukan untuk orang lain tetapi untuk dirinya sendiri. Akan mendapatkan uang dari hasil penjualannya. Kalau saya tidak jualan bakso maka orang-orang tidak akan makan bakso. Ini pemikiran yang salah karena masih banyak lagi penjual bakso lainnya. Jadi, manfaatnya untuk dirinya sendiri, itu yang paling utama. Walaupun asbab dia orang lain bisa makan bakso.



      Setiap hari pekerja dakwah keliling-keliling, silaturrahmi, jaulah. Kita tidak bisa berpikir siapa yang akan diberi hidayah oleh Allah SWT. Yang penting setiap hari istiqamah buat dakwah tanpa memandang panas atau pun hujan dan lelah terus saja keliling. Kita pun harus tanamkan didalam hati kerja dakwah ini untuk saya bukan untuk orang lain. Kita akan mendapatkan pahala di setiap amalan yang kita buat. Jangan kita pernah berpikir kalau saya tidak buat silaturrahmi dan jaulah maka orang kampung tidak akan dapat hidayah karena masih banyak lagi pekerja dakwah yang lainnya.



      Allah SWT berfirman :

      Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barangsiapa mentaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar. (QS. Al Ahzab 70-71)



      “Katakanlah perkataan yang benar” maksudnya buat dakwah.



      Janji Allah ada pada orang-orang yang buat dakwah bukan pada orang-orang yang di dakwah. Allah akan memperbaiki amalannya dan mengampuni dosa-dosanya.



      Yang mendapat manfaat itu orang yang buat dakwah bukan orang yang di dakwah. Orang yang kita dakwah belum tentu dapat hidayah karena hidayah itu hak mutlak milik Allah SWT. Siapa saja bisa diberi hidaya oleh Allah SWT. Kerja kita hanya buat dakwah dan dakwah.



      Insya Allah, semua niat menjadikan dakwah maksud hidup kita



      Semua kita niat bagaimana seluruh kehidupan kita ini untuk dakwah bukan hanya 3 hari, 40 hari dan 4 bulan tetapi "All Life".



      Jangan "All Wife", Seluruh kehidupan kita habiskan untuk istri.



      Bedanya cuma sekikit sekali "L" dan "W" tetapi pengaruhnya sangat berguna untuk kehidupan kita didunia dan akhirat.



      Semua sedia Insya Allah menggunakan seluruh kehidupannya untuk dakwah.



      Yang sudah lama tidak nisab 3 hari, insya Allah keluar lagi

      Yang belum keluar 40 hari, 4 bulan tahun ini, insya Allah keluar lagi
  • Karkun Jamaah Tabligh Bentuk Jamaah Gerak 4 Bulan
    • Apa Yang Sudah Kita Korbankan Untuk Agama...?
      Bukan mudah Nabi buat usaha, Nabi pergi pagi dengan baju yang berwarna putih pulang petang dengan baju yang berwarna merah karena berlumuran darah dengan rambut penuh debu menghadapi bermacam-macam kesusahan dan penderitaan caci maki bahkan ancaman bunuh dari pada orang-orang kafir yang ketika itu belum menerima Agama ini.



      Ketika Nabi SAW belum buat dakwah, seluruh penduduk mekkah panggil dengan al amin (Nabi yang terpercaya) Nabi ash siddiq (Nabi yang bisa dipegang bicaranya) Nabi at tayyib (Nabi yang paling baik). Tetapi ketika Nabi SAW mulai buat usaha dakwah satu persatu gelar itu mereka ganti, Nabi al majenun (Nabi gila) Nabi pendusta Nabi adalah ahli sihir yang nyata dan pendusta besar. (na'udzubillah)



      Dalam riwayat dari Manbat Al-Azdi, katanya: Pernah aku melihat Rasulullah SAW di zaman jahiliah, sedang beliau menyeru orang kepada Islam, katanya: 'Wahai manusia sekaliani Ucapkanlah 'Laa llaaha lliallaah!' nanti kamu akan terselamat!' beliau menyeru berkali-kali kepada siapa saja yang beliau temui. Malangnya aku lihat, ada orang yang meludahi mukanya, ada yang melempar tanah dan kerikil ke mukanya, ada yang mencaci-makinya, sehingga ke waktu tengah hari.

      Kemudian aku lihat ada seorang wanita datang kepadanya membawa sebuah kendi air, maka beliau lalu membasuh wajahnya dan tangannya seraya menenangkan perasaan wanita itu dengan berkata: Hai puteriku! Janganlah engkau bimbangkan ayahmu untuk diculik dan dibunuh ... ! Berkata Manbat: Aku bertanya: Siapa wanita itu? Jawab orangorang di situ: Dia itu Zainab, puteri Rasuluilah SAW dan wajahnya sungguh cantik.

      (Majma'uz Zawa'id 6:21)



      Ketika Nabi berada di Ka'bah, tiba-tiba datang Uqbah bin Abu Mu'aith, lalu dibelitkan seutas kain pada tengkuk beliau dan dicekiknya dengan kuat sekali. Maka seketika itu pula datang Abu Bakar ra membantu. Uqbah bin Abu Mu'aith juga telah mencurahkan taik unta ketika Nabi SAW sujut.

      Ketika Nabi SAW diangkat menjadi Nabi, 1 detik pun dipikiran Nabi SAW tidak terpikir lagi untuk buat usaha dunia. Bahkan harta kekayaan Nabi SAW satu demi satu semua dikorbankan untuk agama.

      Nabi SAW diangkat menjadi Nabi usia 40 tahun. Kita sekarang sudah usia 50, 60, bahkan 70 tahun, lebih disibukkan dengan perkara dunia.



      Nabi SAW gelisah kalau ada makanan dirumahnya. Hari ini kita gelisah kalau tidak ada makanan dirumah. Ada 5 butir kurma dirumah Nabi SAW, malam itu juga diberikan kepada yang lebih membutuhkan.



      Nabi SAW gelisah kalau ada uang dirumahnya. Hari ini kita gelisah kalau tidak ada uang dirumah. Ada 5 buah keping uang dinar dirumah Nabi SAW, malam itu juga diberikan kepada yang lebih membutuhkan.



      Beberapa bulan tidak pernah berasap dirumah Nabi SAW karena tidak ada yang dimasak. Lapar adalah tamu harian Nabi SAW.



      Suatu ketika satu shaf shalat berjamaah sahabat telah roboh dimesjid karena lapar. Nabi SAW berkata : “Wahai para sahabatku andaikan kalian mengetahui fhadilahnya maka yang lebih berat dari itu pun kalian akan mau”. Nabi SAW membuka bajunya dan para sahabat melihat diperut Nabi SAW terikat 3 buah batu untuk mengganjal perutnya.



      Satu shaf shalat berjamaah sahabat telah roboh dimesjid karena lapar. Hari ini kita karena kekenyangan tidak mau shalat berjamaah ke mesjid.



      Selama 3 tahun Nabi, istrinya khadijah dan para sahabat di boikot dan mereka makan daun-daun yang kering untuk mempertahankan hidup. Ketika itu badan khadijah sudah tidak ada daging lagi hanya tinggal tulang belulang karena tidak makan.



      Satu hari Nabi SAW pulang dari kerja dakwah dan dia dapati khadijah sedang menyusui Fatimah. Bukan air susu lagi yang diminum oleh Fatimah tetapi darah. Nabi SAW mengambil Fatimah dan menaruhnya ditempat tidur dan Nabi SAW pun tertidur dipangkuan khadijah karena lelah buat dakwah. ketika itu dengan belaian kasih sayang membelai kepala Nabi SAW terasa air mata Khadijah menetes di pipi Nabi.



      Semua orang telah menjauh darimu seluruh harta kekayaanmu telah habis adakah engkau menyesal wahai Khadijah mempersuamikan aku.



      Khadijah berkata : “Wahai suamiku , wahai Nabi Allah bukan itu yang aku tangiskan, dahulu aku memiliki kemuliaan, kemuliaan itu aku serahkan pada Allah dan Rasul-Nya, dahulu mempunyai kebangsawanan, kebangsawanan itu aku serahkan pada Allah dan Rasul-Nya, dahulu aku memiliki harta kekayaan dan kuserahkan juga pada Allah dan Rasul-Nya”.



      Wahai Rasulullah sekarang aku tidak mempunyai apa-apa lagi, tetapi engkau masih terus memperjuangkan Agama ini, “Wahai Rasulullah sekiranya aku telah mati sedangkan perjuanganmu ini belum selesai sekiranya engkau hendak menyeberangi sebuah sungai, lautan engkau tidak mempunyai rakit atau jembatan maka engkau galilah lubang kuburku engkau gali engkau ambil tulang belulangku engkau jadikanlah sebagai jembatan untuk menyebrangi sungai itu untuk jumpa manusia ingatkan kepada mereka kebesaran Allah ingatkan kepada mereka yang hak ajak mereka kepada Islam wahai Rasulullah”.



      2/3 harta kekayaan kota Mekkah milik khadijah tetapi ketika Khadijah hendak menjelang wafat tidak ada pakaian tidak ada kafan digunakan untuk menutupi jasad Khadijah, Bahkan pakaian Khadijah yang digunakan ketika itu adalah pakaian yang sudah sangat kumuh dengan 83 tambalan.



      Kalaulah kita mempunyai 2/3 kekayaan kota Jakarta, maka kita akan termasuk orang yang paling kaya di Indonesia. Tetapi Khadijah telah mengorbankan itu semua untuk agama.



      Khadijah tidak pernah shalat, puasa, zakat dan haji. Khadijah hanya buat dakwah dan berkorban untuk agama. Tetapi Allah SWT masukkan Khadijah kedalam surga yang tidak ada kesibukan dan bising. Wanita itu identik dengan sibuk dan bising karena merawat anak.



      Bagaimana penderitaan Bilal r.a. yang ditindih dengan batu besar di tengah padang pasir ketika matahari sedang terik membakar kulit. Kemudian dicambuk badannya terus-menerus. Yang mencambuknya saja capek. Bagamana pula dengan yang dicambuk.



      Bagaimana pedihnya penyiksaan yang dialami Khabab bin al Arat ra tubuhnya diseret di atas timbunan bara api sehingga lemak dan darah yang mengalir dari tubuhnya memadamkan bara api itu.



      Bagaimana keluarga Ammar bin Yasir, Ayahnya mati dalam penyiksaan dan ibunya, Sumayyah r.ha wanita pertama dikalangan sahabiyah yang mati syahid. Kemaluannya ditikam hingga ke dadanya oleh Abu Jahal.



      Satu orang sahabiyah telah mendatangi Nabi SAW. Ya Nabi Allah, engkau bawalah anakku ini untuk ikut berperang (anak yang masih merah dalam pangkuan). Nabi SAW bertanya : “Apa yang bisa dilakukan oleh anak sekecil ini. Sahabiyah itu menjawab : “Andaikan dalam peperangan ada yang ingin membunuhmu, engkau jadikanlah anakku ini sebagai tameng”.



      Begitulah penderitaan Nabi, khadijah dan para sahabat memperjuangkan agama sehingga kita bisa merasakan islam hari ini.



      “Di antara orang-orang sebelum kumu, ada yang digalikan Sebuah lubang untuknya lalu ia dimasukkan ke dalamnya, kemudian diletakkan sebuah gergaji di atas kepalanya dan ia pun dibelah menjadi dua bagian. Ada pula yang disisir badannya dengan sisir besi hingga kulit dan dagingnya terkelupas, namun semua itu tidak menghalangi mereka dari Dien mereka.” (Hr. Bukhari)

      Agama tersebar hingga hari ini kita kenal Allah bukan dengan mudah, Agama sampai pada kehidupan Agama, Agama sampai pada kampung kita, Agama sampai masuk kedalam rumah-rumah kita, Agama sampai pada ke hati-hati kita.



      Bukan di bawa oleh burung, bukan dibawah oleh angin, bukan dibawah oleh air sungai yang mengalir tapi dibawah oleh pengorbanan Nabi dan para Sahabat, dibawah oleh para janda-janda para sahabat, dibawah oleh yatim-yatim para sahabat.



      Hari ini kita senang-senang amal Agama diatas penderitaan dan jeritan janda-janda dan yatim-yatim para sahabat.



      Hari ini kita senang amal-amal Agama diatas penderitaan Khadijah r.ha.

      Hari ini kita senang amal-amal Agama diatas penderitaan Nabi SAW.



      Kalaulah hari ini kita tidak menghargai pengorbanan mereka apa yang harus kita jawab dihadapan Allah



      Kalaulah kita jumpa Allah



      Apa yang kita jawab dihadapan Nabi, apa...? Yang telah mengorbankan seluruh kehidupannya untuk agama.



      Apa yang kita jawab dihadapan Abu Bakar, apa...? Yang telah menghabiskan seluruh harta bendanya untuk Agama.



      Apa yang kita jawab dihadapan para sahabat, apa...? Yang mengorbankan harta dan dirinya dan syahid jalan Allah.



      Apa yang kita jawab dihadapan para sahabiyah, apa...? Yang mengorbankan suami nya syahid di jalan Allah



      Apa yang kita jawab dihadapan anak-anak yatim para sahabat, apa...? Yang telah menggerakan ayahnya untuk memperjuangkan Agama.



      Agama sangat berhajat pada pengorbanan, semakin banyak kita berkorban maka kecintaan kepada agama pun akan semakin kuat.



      Pengorbanan Nabi, Khadijah dan para sahabat dibandingkan kita belumlah ada apa-apanya. Tetapi untuk meluangkan waktu 3 hari setiap bulan pun masih terasa berat. Untuk melungkan waktu 40 setiap tahun pun terasa berat.



      Ya Allah, ampuni kami yang masih banyak main-main dalam dakwah.



      Apa Yang Sudah Kita Korbankan Untuk Agama...?



      Apa Yang Sudah Kita Korbankan Untuk Agama...?



      Apa Yang Sudah Kita Korbankan Untuk Agama...?
Semasa belajar di Mekkah, KH Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyyah, bersahabat dengan Maulana Muhammad Ilyas, pendiri Jamaah Tabligh – gerakan dakwah mendunia yang berpusat di New Delhi India. Demikian ditulis oleh Zaim Uchrowi dalam bukunya Authorized Biography “Muhammad Amien Rais Memimpin dengan Ruhani Ruhani (cetakan ke III, Juni 2004 hal 160).



Di kota suci tersebut, KH Ahmad Dahlan diceritakan juga berteman dengan KH Hasyim Asy’ari, pendiri NU (Nahdlatul Ulama). Kalau KH Ahmad Dahlan bersahabat dengan KH Hasyim Asy’ari, maka ada kemungkinan besar KH Hasyim Asy’ari juga kenal dan bersahabat dengan Maulana Muhammad Ilyas, karena mereka semua hidup dan pernah menimba ilmu di kota suci dalam kurun waktu yang hampir bersamaan.



Dari foto/gambar KH Ahmad Dahlan dan KH Hasyim Asy’ari yang beredar di masyarakat, mereka berdua selalu digambarkan sebagai sosok berjenggot yang selalu mengenakan surban dan gamis, pakaian yang sekarang kayaknya asing dan jarang digunakan oleh para aktivis kedua gerakan tersebut, kecuali mungkin oleh sedikit kyai pesantren yang tinggal di kampung (mungkin dianggap tidak substansial?).



Sementara gambar/foto Maulana Ilyas sendiri, sejauh ini tidak ada yang diedarkan (beliau juga tidak menghendakinya). Tetapi, kalau kita dilihat dari para aktivis gerakan yang beliau perintis dan dari buku-buku yang ditulis tentang beliau, penampilan beliau sehari-hari saya kira juga tidak akan jauh berbeda dari kedua tokoh tersebut.



Dari nama gerakan yang dipakai oleh ketiga gerakan tersebut juga menunjukkan semangat yang sama untuk menghidupkan kembali agama sesuai dengan yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Muhammadiyyah, secara harfiyah dapat diartikan sebagai pengikut Muhammad. NU (Nahdlatul Ulama) secara harfiah bermakna kebangkitan para ulama. Ulama sendiri, sebagaimana disebutkan dalam hadits, adalah pewaris para nabi dan penghulu para nabi adalah nabi Muhammad SAW.



Sedangkan nama Jamaah Tabligh tidak lah diberikan oleh Maulana Ilyas sendiri, nama ini diberikan oleh orang lain. Maulana Ilyas sendiri tidak memberikan sebuah nama pun untuk gerakan beliau, seandainya harus ada nama, maka beliau lebih suka memberi nama gerakan ini dengan nama “Harakatul Iman” (Gerakan Iman).



Kisah di atas adalah sekelumit contoh kecil mengenai hubungan dan persentuhan antar tokoh tiga gerakan Islam tersebut. Jika penelusuran dilakukan lebih mendalam, maka penulis yakin, antar tokoh-tokoh gerakan Islam bisa ditemukan persentuhan yang lebih luas lagi.



Gambaran sementara orang bahwa hubungan antar berbagai gerakan Islam adalah tidak harmonis, tidak bisa bekerja sama dan saling bertentangan sama lain adalah gambaran yang terlalu dibesar-besarkan. Para tokoh pendiri gerakan sendiri memberi teladan yang sangat baik bagaimana mereka harus bergaul dan saling menghormati satu dengan lainnya.



Sekarang ini kita hidup di jaman global dimana kita tidak mungkin hidup dalam sebuah enclave yang tertutup. Untuk memenuhi kebutuhan hidup di dunia ini kita harus berhubungan dengan orang lain, yang berasal dari negara, agama, bangsa dan bahasa yang berbeda. Maka untuk kepentingan menghidupkan kembali agama, kebutuhan untuk kerjasama satu dengan lainnya mesti lebih dibutuhkan lagi, tanpa kita harus menanggalkan identitas dan ciri khas kita masing-masing.



Dua buah contoh sederhana dalam hal ini mungkin bisa disebutkan disini. KH Hasyim Muzadi, ketua PB NU yang sering digambarkan sangat kritis terhadap gerakan Transnasional, entah dilakukan secara sadar atau tidak, dalam sebuah kolomnya di harian Kompas pada bulan Ramadhan tahun 2006, pernah mengutip pendapat dari sebuah kitab yang dijadikan pegangan oleh para aktivis Jamaah Tabligh di seluruh dunia, yaitu kitab Fadhilah Amal-nya Maulana Zakariyya Kandahlawy. Beliau mengutip dari buku itu dalam konteks pentingnya kita memanage waktu dalam kehidupan kita, terutama kaitannya dengan bulan Ramadhan.



Sementara itu di Yogyakarta, seorang cucu KH Ahmad Dahlan, Muhammad Iftironi, juga aktif di kegiatan Masjid Ittihad, Jalan Kaliurang Km 5,5, markaz Tabligh di Yogyakarta, beliau juga sering melakukan perjalanan dakwah keliling dari satu masjid ke masjid yang lain. Dalam kehidupan sehari-hari, beliau juga lebih sering tampil dengan pakaian “kebesaran” seperti kakeknya, yaitu berbaju gamis dan bersurban. Pak Iftironi insya allah juga sedang belajar untuk menjadi pengikut Nabi Muhammad (Muhammadiyah) sejati seperti dulu yang dilakukan oleh kakeknda tercinta.



Contoh-contoh kecil semacam itu saya kira cukup menyejukkan dan seharusnya bisa dikembangkan lebih luas lagi dalam kehidupan sehari-hari. Kalau ketiga pendiri gerakan tersebut bisa saling bersahabat dan berteman satu sama lain, maka tidak ada alasan bagi kita untuk tidak mencontohnya.



Tantangan bagi umat Islam untuk bangkit kembali sangat berat, baik dari internal maupun eksternal. Maka saat ini bukanlah waktu yang tepat bagi kita untuk saling membesar-besarkan perbedaan, saling curiga, mencela dan saling menyebarkan fitnah satu sama lain. Marilah kita saling berfastabiqul khairat untuk mencari keridloaan Allah SWT. Wallahul mustaan
    • Sebagai pelabuhan niaga samudera, Barus (Lobu Tua) diperkirakan sudah ada sejak 3000 tahun sebelum Masehi. Bahkan ada juga yang memerkirakan lebih jauh dari itu, sekitar 5000 tahun sebelum Nabi Isa lahir. Perkiraan terakhir itu didasarkan pada temuan bahan pengawet dari berbagai mummy Fir'aun Mesir kuno yang salah satu bahan pengawetnya menggunakan kamper atau kapur barus. Getah kayu itu yang paling baik kualitasnya kala itu hanya ditemukan di sekitar Barus. Sejarawan di era kemerdekaan, Prof Muhamad Yamin memerkira­kan perdagangan rempah-rempah diantara kamper sudah dilakukan pedagang Nusantara sejak 6000 tahun lalu ke berbagai penjuru dunia. Seorang pengembara Yunani, Claudius Ptolomeus menyebutkan bahwa selain pedagang Yunani, pedagang Venesia, India, Arab, dan juga Tiongkok lalu lalang ke Barus untuk mendapatkan rempah-rempah. Lalu pada arsip tua India, Kathasaritsagara, sekitar tahun 600 M, mencatat perjalanan seorang Brahmana menacari anaknya hingga ke Barus. Brahmana itu mengunjungi Keladvipa (pulau kelapa diduga Sumatera) dengan rute Ketaha (Kedah-Malaysia), menyusuri pantai Barat hingga ke Karpuradvi­pa (Barus).



      Pada sekitar tahun 627-643 atau tahun pertama Hijriahki kelompok pedagang Arab memasuki pelabuhan Barus. Diantara mereka tercatat nama Wahab bin Qabishah yang mendarat di Pulau Mursala pad a 627 M. Ada juga utusan Khulafaur Rasyidin bernama Syekh Ismail yang singgah di Barus sekitar tahun 634. Sejak itu, bangsa Arab (Islam) mendirikan koloni di Barus. Bangsa Arab menamakan Barus dengan sebutan Fansur atau Fansuri, misalnya oleh penulis Sulaiman pada 851 M dalam bukunya Silsilatus Tawarikh. Berikutnya Dinasty Syailendra dari Champa (Muangthai) menaklukkan empirium Barus sekitar 850 M dan menamakan koloni itu seabagai Kalasapura. Setelah penaklukan itu, di kota pelabuhan itu berdiri koloni yang terdiri dari berbagai bangsa terpisah dari penduduk asli. Seabad setelah itu, bangsa Eropa menemukan Barus. Penjelajah terkenal Marcopolo menjejakkan kakinya di bandar perniagaan itu pada 1292 M. Sedangkan sejarawan muslim ternama, Ibnu Batutah, mengunjungi Barus pada 1345 M. Berikutnya pelaut Portugis berdagang di kota ini pada 1469 M. Sedangkan pedagang dari berbagai belahan dunia lain menyinggahi Barus, tercatat dari Srilanka, Yaman, Persia, Inggeris, dan Spanyol.



      Emporium Sarus



      Banyak sejarawan muslim mengaku arti penting pantai Barat Pulau Sumatera sebagai salah satu daerah awal masuknya Islam ke Nusantara. Namun belum ada kesepakatan dintara mereka, apakah Barus merupakan lokasi pertama masuknya Islam. Pandangan itu setidaknya mengemuka dalam Seminar I "Masuknya Islam di Nusantara" yang diselenggarakan di Medan pada tahun 1963. Dalam seminar itu, seorang sejarawan lokal, bernama Dada Meuraksa berkeyakinan Islam masuk ke Barus pada tahun I Hijriah, berdasarkan penemuan batu nisan Syekh Rukunuddin di komplek pemakaman mahligai.



      Batu nisan itu menginformasikan bahwa Syekh Rukunuddin wafat dalam usia 100 tahun, 2 bulan, dan 22 hari pada tahun hamim atau hijaratun Nabi. Meuraksa menerjemahkan ha - mim itu 8-40 yang kemudian dijumlahkan menjadi 48 H. Perhitungan itu ber­dasarkan Ilmu Falak dari kitab Tajut Mutuk. Namun pada seminar itu pandangan Meuraksa disangkal ulama terkenal Sumut saat itu, ustadz HM Arsyad Thalib Lubis. Menurut ulama pendiri AI Jam'iyatul Washliyah ini, bukti nisan tidak dapat dijadikan dasar penentuan. Perbedaan itu terus berlangsung hingga belasan tahun kemudian. Baru pada 1978 sejumlah arkeolog dipirnpin Prof DR Hasan Muarif Ambary melakukan penelitian terhadap berbagai nisan makam yang ada di sekitar daerah Barus. Pada penelitian terhadap nisan Syekh Rukunuddin, arkeolog dari Universitas Airlangga Surabaya itu meyakini Islam sudah masuk sejak tahun I Hijriah. Hal itu berdasarkan pada perhitungan yang menguatkan pendapat pertama oleh sejarawan local Dada Meuraksa yang didukung sejumlah sejarawan lainnya.



      Perhitungan masuknya Islam di Barus itu didukung pula dengan temuan 44 batu nisan penyebar Islam di sekitar Barus yang bertuliskan aksara Arab dan Persia. Misalnya batu nisan Syekh Mahmud di Papan Tinggi. Makam dengan ketinggian 200 meter di atas permukaan laut itu, menurut ustadz Djamaluddin Batubara, hingga kini masih ada, namun ada yang belum bisa diterjemahkan, Hal itu disebabkan tulisannya merupakan aksara Persia kuno yang bercampur dengan huruf Arab. Ustadz Djamaluddin Batubara memiliki teori lain tentang keberadaan makam Syekh Mahmud yang letaknya terpencil di ketinggian bukit Papan Tinggi, Menurutnya, Syekh Mahmud berasal dari Hadramaut, Yaman, dan diperkirakan datang lebih awal dari Syekh Rukunuddin, yakni pada era 10 tahun pertama dakwah rasulullah Muhammad SAW di Mekkah, Masa kedatangan ulama, yang diduga masih kerabat dan sahabat nabi itu, membawa ajaran Islam Tauhid tanpa Syariat, "Itu sebabnya di makam itu belum ada penanggalan, melainkan sabda nabi SAW yang bermakna tauhid," jelas ustadz Djamaluddin. Selain itu, ketinggian makam itu disbanding 43 makam lain menjadi alasan terdahulunya kedatangan Syekh Mahmud ketimbang penyebar Islam lainnya.



      Dijelaskan oleh ustadz lulusan Pondok Pesantren Purba Baru ini, Syekh Mahmud adalah merupakan penyebar Islam pertama di Barus, sedangkan 43 ulama lainnya merupakan pengikut dan murid-muridnya. Ke 43 makam ulama penyebar Islam itu diantaranya, makam Syekh Rukunuddin, Tuanku Batu Badan, Tuanku Ambar, Tuan Kepala Ujung, Tuan Sirampak, Tuan Tembang, Tuanku Kayu Manang, Tuanku Makhodum, Syekh Zainal Abidin Ilyas, Syekh Ahmad Khatib Sidik, dan makam Imam Mua'azhansyah. Selanjutnya makam Imam Chatib Miktibai, Tuanku Pinago, Tuanku Sultan Ibrahim bin Tuanku Sultan Muhammadsyah Chaniago, dan makam Tuanku Digaung.



      Dikatakan oleh ustadz Djamaluddin, keberadaan Islam di Barus berhubungan langsung dengan Islam di Aceh. Beberapa arsip kuno menunjukkan adanya tiga ulama Islam yang menghubungkan Barus dan Aceh. Misalnya, keberadaan ulama terkenal Syekh Hamzah Fansuri dan Syekh Syamsuddin as Sumatrani, paham paham keagamaan mereka berseberangan dengan Syekh Abdul Rauf Singkil. Diyakini banyak sejarawan Islam, kedua ulama terdahulu ber­mukim dan menyebarkan pahamnya di Barus setelah paham Wujudiah mereka mendapat serangan dari Syekh Abdul Rauf Singkil dan tidak diakui di Kerajaan Islam Samudera Pasai, Aceh.



      Menurut ustadz Djamaluddin Batubara, etnik Batak dikenal sangat teguh memegang adat istiadat melebihi apapun. Sedangkan adat istiadat mereka pegang diperkuat dengan ajaran lokal Parmalim atau Sipetebegu. Namun patut dicatat, awalnya masuknya Islam dimasa Syekh Mahmud dan 43 ulama lainnya, diperkirakan tidak ada penolakan, malah terjadi sinkretisisme simbolik. Baru pada periode kedua masuknya Islam sekitar abad 17 M, ajaran itu ditolak, karena berlawanan dengan adat kebiasaan masyarakat setempat, "Jelasnya, ketika Islam tauhid atau sufistik datang, tak ada penolakan. Baru ketika Islam syariat datang masyarakat menolak," tegas Djamaluddin.
Wahyu yang kedua kalinya turun Ya ayyuhal Mudatsir. Hai orang yang berselimut, bangunlah, lalu berilah peringatan!. Buat dakwah. Kita mengetahui wahyu yang pertama kali turun adalah Iqra’ Bismi Rabbikal Lazi Khalaq. “Bacalah, Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya “.



Wahyu yang pertama terdiri dari 5 ayat. Nabi SAW waktu itu masih faham 5 ayat saja. Sudah diperintahkan buat dakwah. Sekembalinya dari Gua Hira Nabi Muhammad SAW menggigil dan berselimut. Malaikat Jibril datang kembali menyampaikan wahyu yang kedua. Ya ayyuhal Mudatsir, Hai orang yang berselimut, bangunlah, bangunlah. Buat dakwah. Yang perlu digaris bawahi disini Nabi SAW ketika itu masih tahu 5 ayat saja. Tetapi sudah disuruh buat dakwah.

Di hari pertama Nabi SAW buat dakwah. Beliau telah dakwah kepada istrinya Khadijah dan masuk islam. Dakwah kepada Zaid bin Haritsah dan masuk islam. Zaid adalah seorang budak yang dibeli oleh Nabi SAW dan menjadikannya anak angkat. Dakwah kepada keponakannya Ali bin Abi Thalib dan masuk islam. Dakwah kepada temannya Abu Bakar dan masuk islam. Di hari pertama Nabi SAW buat dakwah telah mengislamkan 4 orang.



Abu Bakar telah bertanya kepada Nabi SAW. Ya Nabi Allah apa tugas dan kewajiban saya? Nabi SAW menjawab :”Apa tugas saya itulah tugas kamu”. Apa tugas Nabi SAW? Buat dakwah. Abu Bakar pun langsung buat dakwah. Yang perlu digaris bawahi disini Abu Bakar ketika itu tidak tahu apa-apa mengenai islam dan tidak satu ayat pun yang beliau tahu. Yang diketahui Abu Bakar islam itu adalah “Dakwah”. Abu Bakar ketika itu Cuma tahu satu kalimat saja. Yaitu kalimat iman. “Laa ilaaha illallaah Muhammadur Rasulullah”.



Dari Aisyah r.ha. menceritakan, “Abu Bakar ra. keluar untuk menemui Rasulullah SAW karena memang ia sudah bersahabat dengan Nabi SAW sejak masa jahiliyah. Ketika bertemu dengan Nabi SAW. ia berkata, “Hai Abdul Qasim (Nabi Muhammad SAW), Engkau telah diasingkan dari majelis kaummu, dan mereka menuduhmu telah menghina nenek moyang mereka.” Rasulullah SAW bersabda, “Aku adalah Rasul Allah, aku mengajak engkau kepada (agama) Allah.” Setelah beliau selesai menyampaikan ucapannya (dakwahnya), maka Abu Bakar ra. pun memeluk Islam. Lalu Rasulullah SAW pergi meninggalkan Abu Bakar, dan tiada seorang pun di antara kedua bukit Makkah yang lebih berbahagia daripada Rasulullah SAW dengan masuk islamnya Abu Bakar ra. Dari sana Abu Bakar ra. pergi kepada Utsman bin Affan, Thalhah bin ‘Ubaidillah, Zubair bin Awwam, dan Sa’ad bin Abu Waqqash r.hum. (untuk mengajak mereka kepada Islam). Maka mereka pun semuanya memeluk Islam. Esok harinya Abu Bakar ra datang kepada Utsman bin Mazh’un, Abu Ubaidah bin Jarrah, Abdur Rahman bin ‘Auf, Abu Salamah bin Abdul Asad, dan Arqam bin Abil Arqam, lalu membawa mereka semua (kepada Rasulullah SAW maka mereka pun masuk Islam).” (Al Bidaayah Wan Nihaayah III/80)



Dihari pertama Abu Bakar masuk islam, beliau telah mengislamkan 4 orang dan di hari kedua Abu Bakar masuk islam, beliau telah mengislamkan 5 orang lagi. Dalam jangka 2 hari Abu Bakar sudah mengislamkan 9 orang.



Jadi, 10 Assabiqunal Awwalun itu adalah 4 orang taskilan Nabi SAW dan 6 orang taskilan Abu Bakar yaitu : Khadijah, Zaid bin Haritsah, Ali bin Abi Thalib, Abu Bakar, Utsman bin Affan, Thalhah bin ‘Ubaidillah, Zubair bin Awwam, dan Sa’ad bin Abu Waqqash, Utsman bin Mazh’un, Abu Ubaidah bin Jarrah.



Nabi SAW baru faham 5 ayat sudah diperintahkan buat dakwah. Abu Bakar baru tahu satu kalimat “Laa ilaaha illallaah Muhammadur Rasulullah” sudah diperintahkan buat dakwah.

Bolehkah anak kecil mengumandangkan adzan...? Jawabnya boleh. Bolehkah seseorang yang sama sekali belum pernah sekolah mengumandangkan adzan...? Jawabnya boleh. Bolehkah seorang preman mengumandangkan adzan...? Jawabnya boleh. Bolehkah tukang becak mengumandangkan adzan...? Jawabnya boleh. Bolehkah ulama mengumandangkan adzan...? Jawabnya tentu boleh. Jadi, intinya siapa saja boleh mengumandangkan adzan. Asal dia tahu lafadz-lafadznya (Islam).



Setelah selesai adzan kita akan berdoa “Allahumma Robba Hadzihid Da'waatit Taammah...” Wahai Tuhanku yang mempunyai seruan yang sempurna... Dakwah yang sempurna. Adzan adalah dakwah yang sempurna. Ketika adzan dikumandangkan semua di seru. Pejabat, penjahat, tukang babat, ulama, ustadz, pemabuk, pedagang, petani. Bahkan Yahudi dan Kristiani pun mendengan seruan adzan.



Dalam dakwah pun begitu semua kalangan didatangi. Tanpa memandang status, pangkat dan jabatan. Ketika buat dakwah ulama didatangi, penjahat pun didatangi karena itu memang tanggung jawab kita.



Adzan adalah dakwah yang paling sempurna dan siapa saja boleh mengumandangkan adzan dan semua kalangan diseru, dipanggil untuk datang kemesjid memenuhi panggilang Allah SWT.



Jadi, tidak harus tamatan pesantren, S1, S2 atau S3 baru boleh buat dakwah. Siapa saja boleh buat dakwah karena tanggung jawab usaha dakwah ini, tanggung jawab semua orang islam yang ada kalimat “Laa ilaaha illallaah Muhammadur Rasulullah” didalam hatinya.



Allah SWT berfirman :

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar”, (QS. Ali 'Imran 110)



Jadi, kita ini sebagai umat akhir zaman adalah umat dakwah yang di hantar untuk buat dakwah kepada seluruh manusia.



Allah SWT berfirman :

Katakanlah: "Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik." (QS. Yusuf 108)



Aku (Nabi SAW) dan orang-orang yang mengikutiku mengajak kepada Allah. Didalam ayat ini dikatakan kalau kita mengaku pengikut Nabi SAW harus buat dakwah. Yang dipertanyakan kalau kita tidak buat dakwah kita ini ummat siapa...?



Ketika adzan dikumandangkan. Seorang anak kecil telah berkata kepada ayahnya. Wahai ayahku, bagaimana kalau kita shalat berjamaah dimesjid. Perkataan anak ini pun sudah dinilai dakwah. Karena dakwah itu “Mengajak”. Jadi, tidak perlu ilmu yang banyak untuk buat dakwah. Satu ayat saja yang kita ketahui sudah disuruh untuk disampaikan.



Nabi SAW bersabda : “Sampaikanlah dari ku walaupun hanya satu ayat”. (HR Ahmad, Bukhari, Tarmidzi)



Setiap umat islam yang baligh bahkan anak-anak pun hafal Al Faatihah. Al Faatihah itu 7 ayat sedangkan yang dikatakan Nabi SAW : “Sampaikanlah walau satu ayat”. Jadi, paling minimal setiap orang islam sudah hafal 7 ayat.



Jadi, tidak ada alasan kalau kita tidak buat dakwah.



Nabi SAW baru faham 5 ayat sudah diperintahkan buat dakwah. Kita sudah tahu 7 ayat. Jadi, tidak ada alasan kalau kita tidak buat dakwah.



Abu Bakar baru tahu satu kalimat “Laa ilaaha illallaah Muhammadur Rasulullah” sudah diperintahkan buat dakwah. Kita sudah bisa shalat, zikir, doa dsb. Jadi, tidak ada alasan kalau kita tidak buat dakwah.



Siapa saja boleh mengumandangkan adzan dan ini adalah dakwah yang sempurna. Kita pun pasti bisa mengumandangkan adzan. Jadi, tidak ada alasan kalau kita tidak buat dakwah.



Nabi SAW pun bersabda : “Sampaikanlah dari ku walaupun hanya satu ayat”. Kita sudah hafal puluhan ayat. Jadi, tidak ada alasan kalau kita tidak buat dakwah.



Didalam surat Yusuf dikatakan kalau kita mengaku pengikut Nabi SAW harus buat dakwah. Jadi, tidak ada alasan kalau kita tidak buat dakwah.



Kita sering berpendapat bahwa jika kita tidak konsekuen dengan ajakan kita dan kita merasa bukan ahlinya, maka tidak selayaknya kita menasihati orang lain. Ini adalah tipuan yang sangat nyata. Jika kita menunaikan suatu tugas dan tugas itu adalah perintah Allah SWT, maka kita tidak boleh mundur sedikit pun. Kita hendaknya memulai kerja dakwah ini dengan kepahaman bahwa dakwah ini adalah perintah Allah SWT. Insya Allah, usaha dan kesungguhan yang kita lakukan akan membawa kemajuan, kekuatan, dan istiqamah. Hendaknya kita kerjakan terus-menerus sehingga kita akan mendapat kedekatan dengan Allah SWT.



Dari Anas ra. ia berkata, kami bertanya, “Ya Rasulullah, kami tidak akan menyuruh orang untuk berbuat baik sebelum kami sendiri mengamalkan semua kebaikan dan kami tidak akan mencegah kemungkaran sebelum kami meninggalkan semua kemungkaran.” Maka Nabi SAW. bersabda, “Tidak, bahkan serulah kepada kebaikan meskipun kalian belum mengamalkan semuanya, dan cegahlah dari kemungkaran, meskipun kalian belum meninggalkan semuanya.” (HR. Thabrani).



Jadi, tidak ada alasan lagi kalau kita tidak buat dakwah.



Tanamkanlah didalam hati kita bahwa dakwah ini perintah Allah SWT sunnah Nabi SAW dan dakwah ini adalah tanggung jawab saya. Walau pun kita hanya seseorang yang tidak pernah sekolah. Tidak bisa baca dan tulis. Nabi SAW saja tidak bisa baca dan tulis tetapi tetap buat dakwah.



Jadi, tidak ada alasan lagi kalau kita tidak buat dakwah.



“Saya tidak ada keberanian, kekuatan untuk buat dakwah”.

Ini rata-rata penyakit umat islam. Bagaimana cara mengatasinya...?



Supaya bisa buat dakwah. Solusinya buat “Usaha Dakwah”



Untuk buat usaha kita perlu waktu. Usaha perdagangan perlu waktu. Usaha pertanian perlu waktu. Usaha dakwah pun begitu juga, perlu meluangkan waktu. Tahap pertama luangkan waktu 3 hari untuk usaha dakwah. Setelah 3 hari belajar usaha dakwah maka kita akan mendapatkan SIM (Surat Izin Mengajak, Surat Izin Menyampaikan, Surat Izin Mendakwah). Setelah 3 hari, maka kita akan ada kekuatan, keberanian untuk buat dakwah kepada keluarga, teman dsb.



Jadi, tidak ada alasan lagi kalau kita tidak buat dakwah.

Minggu, 27 November 2011

Kalam Dakwah
Kejayaan, kebahagiaan, kemuliaan, dan kesuksesan makhluk ada dalam kekuasaan Allah SWT. Allah yang menciptakan. Allah yang memelihara. Allah yang memberi rizki. Allah menciptakan suasana dan keadaan. Allah menciptakan sesuatu dengan kudrat dan iradat Nya tanpa bantuan makhluk.
Segala yang nampak ataupun yang tidak nampak berasal dari khazanah Allah. Untuk kejayaan, kebahagiaan, kemuliaan, dan keselamatan umat manusia Allah telah menghantarkan Agama Islam yang sempurna. Agama adalah seluruh perintah Allah ikut sunnah Rasulullah saw. Ketiadaan dan kekurangan dalam amal agama akan menyebabkan kerugian, penderitaan, kegagalan, dan kehinaan baik di dunia maupun di akhirat yang kekal abadi selama-lamanya. Agama penting namun usaha atas agama jauh lebih penting. Agama lebih penting dari tanah, air, api, dan udara. Bagaimana agama dapat wujud dalam diri kita dan seluruh umat serta dapat tersebar ke seluruh alam sampai hari kiamat? Jawabnya : Hanya ada satu cara, yaitu dengan usaha dan cara Rasulullah saw, tidak dapat dengan cara lain. Sebagaimana kita melihat hanya dengan mata, mendengar dengan telinga, berbicara dengan mulut, berjalan dengan kaki, dan sebagainya.
Rasulullah saw adalah penutup para Nabi. Allah SWT tidak akan menurunkan Nabi lagi, tetapi tugas kenabian harus tetap berlanjut sampai hari kiamat. Siapakah yang akan meneruskan Usaha Kenabian? Maka Allah telah memilih dan menerima umat ini bertanggungjawab untuk meneruskan Usaha Kenabian.
Apakah Usaha Rasulullah saw itu? Usaha Rasulullah saw adalah kumpulan dari beberapa usaha amal, yaitu :
  1. Usaha Dakwah ila Allah
  2. Usaha menghidupkan Taklim wa Ta’allum
  3. Usaha Dzikir Ibadah dan menambah kekuatan Doa
  4. Usaha Khidmat (bergaul sesama makhluk dengan akhlak Rasulullah saw.
Sebagai contoh usaha pertanian ialah kumpulan dari beberapa hal yaitu harus ada sawah, air, benih, alat, dan petani. Apabila salah satu unsurtadi tidak ada maka usaha pertanian tidak dapat berjalan. Demikian juga dengan Usaha Rasulullah saw, apabila salah satu amalan tidak dapat dihidupkan maka Usaha Rasulullah tidak dapat berjalan.
Usaha Rasulullah saw dapat dijalankan dengan 5 amal Maqami, yaitu :
  1. Musyawarah Harian
  2. 2,5 jam silaturrahmi
  3. Taklim di Masjid dan Taklim di Rumah
  4. Jaulah di masjid sendiri dan jaulah di masjid tetangga
  5. Keluar 3 hari tiap bulan
Agar Usaha dan amalan tersebut dapat terwujud harus dijalankan dengan 6 sifat dalam diri kita, yaitu:
  1. Iman yang benar kepada Allah SWT
  2. Cara Rasulullah saw
  3. Mengetahui nilai amal
  4. Tawajuh kepada Allah
  5. Ikhlash
  6. Mujahadah Nafsu
Untuk menjalankan Usaha Rasulullah harus dikerjakan dengan berjamaah, karena Nusratullah bersama dengan jemaah.
Apakah jemaah itu ?
Jemaah adalah berkumpulnya ahlul haq dalam suatu tempat yang memiliki syarat-syarat tertentu yaitu :
  1. Fikir yang sama sebagaimana fikir Rasulullah saw
  2. Maksud dan tujuan yang sama
  3. Semangat dan gerak yang sama
  4. Pembicaraan yang sama dalam perkara yang sama
  5. Kefahaman agama yang sama atas perkara yang sama
  6. Satu hati dan kasih sayang
Apabila Usaha, Amalan, Sifat, dan Syarat-Syarat tersebut dapat wujud pada diri seseorang, satu jemaah, rumah, tempat usaha, masjid dan kampungselama 24 jam, maka :
  1. Allah akan jadikan asbab turunnya hidayah bagi semua umat di seluruh alam sampai hari kiamat.
  2. Allah akan menjaga rumah, tempat usaha, masjid, dan kampung kita sebagaimana Allah menjaga baitullah dari serangan tentara Abrahah.
  3. Allah menjaga keluarga dan keturunan kita sebagaimana Allah menjaga keturunan Nabi Ibrahim
  4. Allah akan memberikan keberkahan rizki dan rizki yang tidak disangka-sangka
  5. Allah akan tegakkan yang haq dan hancurkan yang bathil
  6. Allah akan mengangkat pemimpin-pemimpin yang adil.
  7. Allah akan jaga diri kita dari fitnah dunia dan fitnah dajjal.
Agama penting namun usaha atas agama jauh lebih penting. Bagaimana menjadikan agama dan usaha atas agama menjadi maksud dan tujuan hidup kita. Pentingnya usaha dan cara tersebut di atas, maka setiap orang apapun profesinya dan strata sosialnya perlu untuk mempelajarinya.
Untuk memahami usaha dan cara tersebut diperlukan pengorbanan fikir, waktu, diri, dan harta. Kepahaman kita terhadap usaha dan cara tersebut tergantung pada seberapa besar pengorbanan kita. Semakin besar pengorbanan kita maka semakin banyak kepahaman yang akan Allah SWT berikan kepada kita.
Kepahaman dalam usaha dakwah yaitu bagaimana maksud hidup kita untuk usaha dakwah. Usaha untuk menjadikan :
  1. Masjid kita seperti masjid Nabawi dizaman Rasulullah saw
  2. Kampung kita seperti Kampung Madinah di zaman Rasulullah saw
  3. Rumah kita seperti Rumah shahabat.
Untuk tahap awal. Usaha dan cara tersebut dengan meluangkan waktu :
  • 2,5 jam setiap hari
  • 3 hari setiap bulan
  • 40 hari setiap tahun
  • 4 bulan seumur hidup